Pada zaman dahulu, sebelum dikenal sebagai Desa Pante Gajah, wilayah ini merupakan kawasan sungai pinggir pante yang masih alami dan belum menjadi pemukiman penduduk. Menurut cerita turun-temurun dari para leluhur, tempat yang kini menjadi desa ini dulunya adalah sungai yang dihuni oleh gajah-gajah liar dari hutan. Gajah-gajah tersebut sering berada di sekitar pinggir sungai, sehingga masyarakat pada masa itu menamakan daerah ini “Pante Gajah”.
Seiring berjalannya waktu, datanglah beberapa orang yang mulai membuka kampung dan menetap di wilayah tersebut. Awalnya hanya satu atau dua keluarga, namun lama-kelamaan jumlah penduduk semakin bertambah hingga menjadi ramai. Dari situlah nama Desa Pante Gajah mulai dikenal dan diwariskan hingga sekarang.
Bukti sejarah keberadaan wilayah ini sebagai kawasan pante dan jalur sungai masih dapat ditemukan hingga kini. Dahulu terdapat sungai besar yang membentang dari Pante Gajah sampai ke daerah Jangka. Jejak sungai itu masih terlihat dari adanya bekas aliran sungai, rawa-rawa, serta tumbuhan rumbia yang tumbuh di sepanjang bekas jalurnya. Menurut cerita orang tua zaman dahulu, sungai tersebut digunakan sebagai jalur transportasi menuju bandar atau pasar di Jangka. Masyarakat bepergian dengan sampan atau perahu melalui sungai untuk berdagang, berbelanja, maupun melakukan barter barang.
Lama-kelamaan, karena faktor alam dan perubahan lingkungan, sungai tersebut mengering dan menghilang. Namun, tanda-tanda keberadaannya masih dapat dibuktikan dari kondisi tanah di desa ini. Jika menggali sumur sedalam satu hingga satu setengah meter, biasanya sudah ditemukan pasir, dan tidak lama kemudian air pun keluar, menandakan bahwa wilayah ini memang dahulu merupakan kawasan pante.
Kini Desa Pante Gajah terus berkembang menjadi desa yang ramai penduduk. Selain memiliki nilai sejarah yang kuat, desa ini juga memiliki berbagai potensi ekonomi. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, terutama menanam padi, karena lahan pertanian di desa ini masih luas. Selain itu, terdapat pula industri rumahan seperti pembuatan batu bata, serta usaha kuliner di pinggir jalan seperti mie Aceh, bakso, dan aneka jajanan lainnya.
Keunggulan Desa Pante Gajah juga terletak pada lokasinya yang dekat dengan kota kecil Matang, sehingga memudahkan akses masyarakat dalam beraktivitas. Dengan penduduk yang sebagian besar produktif dan bekerja, Desa Pantai Gajah menjadi desa yang tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga berkembang dalam bidang ekonomi dan kehidupan sosial masyarakatnya.